![]() |
| Darmi menjajakan dagangannya |
Terik matahari begitu terasa siang itu. Sinar bintang api yang membara menembus permukaan bumi dan memberi sebuah harapan hari yang cerah. Meskipun hawa panas terasa menggigit kulit, hiruk pikuk keramaian orang malah semakin bergemuruh saat itu. Hampir seperti suasana konser band hanya saja yang memenuhi bukanlah kawula muda, melainkan didominasi wanita dan pria paruh baya. Jalanan terlihat begitu sesak, puluhan kendaraan merambat mencoba menembus jalanan yang ramai lalu lalang pejalan kaki, pemandangan ini lebih semrawut dengan tepian jalan yang dijadikan parkir sepeda motor. Itulah pandangan setiap hari di pasar besar kota malang. Pasar peninggalan jaman belanda ini masih hidup di tengah gempuran segmentasi pemasaran oleh franchise waralaba minimarket dan supermarket.
Tidak hanya badan jalan yang dimakan menjadi lahan parkir dan lapak pedagang, ruas pejalan kaki pinggiran toko pun tak luput dari pedagang asongan yang menjajakan dagangannya. Sebagian besar dari pedagang asongan tersebut adalah wanita dan pria paruh baya, bahkan beberapa sudah terlihat begitu renta.
Salah satu pedagang asongan yang setia menjajakan dagangannya di emperan toko adalah Darmi. Wanita tua yang setia menjajakan dagangannya selama lebih dari 30 tahun di emperan toko pasar besar. Dengan usianya yang telah melewati kepala enam, nenek dengan sepuluh cucu ini tetap setia menjajakan aneka masakan nostalgia jawa, seperti aneka botok petai cina, ketimus, dan lepet jagung.
Wanita asli dampit ini setiap hari menjajakan dagangannya sekitar pukul 9 pagi hingga dagangannya habis atau menjelang sore. Meski semua anaknya telah memiliki pekerjaan tetap, Darmi tidak ingin menjadi beban anak-anaknya. Berjibaku dengan keramaian pasar menjadikannya pribadi yang mandiri meskipun di usia senja. Senyum kebahagiaan selalu terpancar di raut mukanya, tidak terlihat sedikitpun beban yang tersirat di mimik wajahnya. Darmi mengaku kebahagiaannya adalah dengan berjualan. Nenek berbadan kurus tersebut senang mendapatkan banyak teman dan pelanggan yang berganti dari waktu ke waktu.
Nenek dengan dua cicit ini setiap pukul 7 pagi berangkat menggunakan angkutan umum dan becak sebagai sarana transportasinya menuju pasar besar. Sore hari kaki kecilnya mulai berjalan masuk ke dalam pasar untuk mencari bahan-bahan yang akan diolah dan dijual esok harinya. Tak ada keluh kesah yang berarti selama Darmi bekerja, hanya saja rasa cepat lelah yang kini mulai menghampirinya, maklum saja diusianya yang sudah tidak lagi muda Darmi tetap tekun berjualan.
Kebahagiaan memang memiliki arti tersendiri untuk setiap orang. Dari nenek yang bernama Darmi ini kita bisa belajar bahwa bahagia itu adalah kerja keras, tidak berpangku tangan, dan memiliki banyak teman. Darmi membuktikan bahwa kenikmatan hidup dapat rasa bahagia bisa didapatkan dengan menyukai apa yang dikerjakan.


0 comments:
Post a Comment