Pembicara : Dra Sirikit Syah, MA
Nasrullah, Msi
Nasrullah, Msi
Keberadaan
media sosial sudah menjadi public sphere
atau tempat masyarakat untuk bebas berbicara. Public Sphere pada jaman dulu adalah warung-warung atau tempat
nongkrong. Media massa diharapkan mengambil alih public sphere ini. Namun karena media massa sudah banyak yang
dibungkam atau membungkam diri, berpihak, bahkan penuh dengan agenda setting,
jadilah media sosial menjadi public
sphere abad 21.
Menururt
Sirikit, jika pilar ke empat negara demokrasi (media massa) sudah tidak dapat
dpercaya bukan tidak mungkin jika akan muncul pilar ke lima, dalam hal ini
media sosial. Media sosial memiliki resiko yang sangat besar. Sifat media
sosial yang masif dan publik rentan terhadap fitnah dan pencemaran nama baik. Media sosial ini kontennya bisa dikelola
sendiri, namun menjadi beresiko dan menjadi petaka ketika konten-konten pribadi
di-share ke orang lain tanpa diketahui. Media sosial bisa mengangkat bukan
siapa-siapa (no one) menjadi orang
terkenal (someone), tetapi sebaliknya
bisa menghabisi hidup seseorang pula. Ibarat dua sisi mata uang, di satu sisi
menjadi berkah, di sisi lain menjadi petaka. Semua ada di jari-jari kita yang
menentukannya.
Para pegiat
demokrasi di Tunisia, Mesir dan Libya menggunakan media sosial untuk
memobilisasi masa turun ke jalan menuntut pemerintahan mundur. Tidak cukup
hanya aksi turun jalan, tapi juga harus ada tindakan politik yang memaksa penguasa
tiran untuk turun dari jabatannya. Tunisia, Mesir dan Libya adalah contoh
bagaimana media sosial mampu berperan menggalang massa untuk menggulingkan
pemerintah. Media tidak pernah setia pada satu kekuatan, suatu saat dia
mendukung tapi pada saat yang lain berbalik melawan. Seperti yang terjadi saat
ini, media sudah mulai berbalik, bukan lagi sebagai pendukung Jokowi, tapi
sudah menjadi media yang kritis. Lihat saja, media yang dulu membela Jokowi
mati-matian, sekarang sudah berbalik sangat kritis. Kalau dulu dia dinaikkan
oleh media, bukan tidak mungkin dia juga akan diturunkan melalui media.
Media sosial
bisa membuat seseorang menjadi cepat terkenal, karena baik maupun tidak baik.
Biasanya masyarakat menerima begitu saja tanpa ada sikap kritis. Media sosial
bisa membuat orang menjadi famous
(terkenal karena baik) dan notorious
(dikenal karena kejelekan). Untuk itu masyarakat harus tetap skeptis terhadap
media, bila perlu menjadi media watch untuk mengawasi media. Untuk menjadi
berdaya, kita harus mampu melek media dengan mengerti kinerja media dan
kebutuhan akan media, bijak menyikapi media, memproduksi informasi dan berbagi
pengalaman serta pengetahuan yang bermanfaat, juga mengubah status yang lebay
atau berlebihan menjadi kalimat penuh hikmah dan inspiratif.


0 comments:
Post a Comment